Tampilkan postingan dengan label UJIAN NASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UJIAN NASIONAL. Tampilkan semua postingan

30 Maret 2012

Nilai UN Jadi Alat Seleksi Masuk PT, Hasil Harus Bagus Nih…

JAKARTA—Ditengah pro dan kontra putusan Mahkamah Agung (MA) ketentuan baru pelaksanaan UN segera diberlakukan. Sebelumnya MA memutuskan penghentian UN bila syarat pemerataan kualitas dan layanan pendidikan belum terpenuhi.
Mulai tahun ini, pemerintah akan menerapkan nilai hasil UN siswa sebagai ‘paspor’ (red; alat seleksi) untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi (PT). Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh menyampaikan ketentuan itu sudah bisa mulai diterapkan pada UN tahun ini.
“Nilai hasil UN murni akan mulai diperhitungkan sebagai syarat untuk masuk jenjang pendidikan tinggi,” ungkap M Nuh kepada wartawan, di Jakarta, baru- baru ini.
Selain itu, lanjut Nuh, nilai mata pelajaran (mapel) yang tidak diujikan dalam UN juga bisa digunakan sebagai ‘rapor’ alat seleksi untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Untuk tahap awal pemberlakuan ini sudah bisa dimulai.
Terkait dengan gugatan atas pelaksanaan UN, Mendikbud menyampaikan jika upaya hukum ke MA tersebut sudah dilakukan sejak tahun ajaran 2004/ 2005. Dalam perjalanan waktu, pelaksanaan UN juga terus mengalami perberbedaan kondisi.
Ia menjelaskan, pelaksanaan UN di tahun 2004/2005 berbeda. Saat itu nilai sekolah tidak diakomodasikan. Kondisi sarana dan prasarana juga masih terbatas karena keterbatasan anggaran dan sebagainya.
Menurut dia sudah tidak relevan lagi jika ‘potret’ kejadian di tahun 2004/2005 ‘diramaikan’ sekarang. “Rentang waktu tujuh hingga delapan tahun sudah banyak berubah dan pelaksanaan UN pun sudah tidak seperti dulu lagi,” tukas Nuh.
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID,
Untuk mendownload Bahan Ajar B.Inggris KLIK DISINI
Untuk mendownload Bahan Ajar Biologi KLIK DISINI
Untuk mendownload Bahan Ajar PKn KLIK DISINI
Untuk mendownload Bahan Ajar TIK KLIK DISINI
Untuk mendownload Bahan Ajar Fisika KLIK DISINI

07 Januari 2012

UN 2012

JADWAL UJIAN NASIONAL 2012 UNTUK SMA/MA

JADWAL UJIAN NASIONAL 2012 UNTUK SMK

JADWAL UJIAN NASIONAL 2012 UNTUK SMP/MTS

Download tentang POS UJIAN NASIONAL SMA/MA, SMK, SMP/MTS 2012 KLIK DISINI

Sekilas tentang ujian nasional yang pernah dilaksanakan di Indonesia.

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sistem ujian nasional telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, perkembangan ujian nasional tersebut, yaitu:

Periode 1965-1971
Pada periode ini, sistem ujian akhir yang diterapkan disebut dengan Ujian Negara, berlaku untuk hampir semua mata pelajaran. Bahkan ujian dan pelaksanaannya ditetapkan oleh pemerintah pusat dan seragam untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Periode 1972-1979
Pada tahun 1972 diterapkan sistem Ujian Sekolah di mana setiap atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian akhir masing-masing. Soal dan pemrosesan hasil ujian semuanya ditentukan oleh masing-masing sekolah/kelompok sekolah. Pemerintah pusat hanya menyusun dan mengeluarkan pedoman yang bersifat umum.

Periode 1980-2000
Untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu pendidikan serta diperolehnya nilai yang memiliki makna yang “sama” dan dapat dibandingkan antar sekolah, maka sejak tahun 1980 dilaksanakan ujian akhir nasional yang dikenal dengan sebutan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Dalam EBTANAS dikembangkan sejumlah perangkat soal yang “paralel” untuk setiap mata pelajaran, dan penggandaan soal dilakukan di daerah.

Periode 2001-2004
Sejak tahun 2001, EBTANAS diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan kemudian berubah nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) sejak tahun 2002. Perbedaan yang menonjol antara UAN dengan EBTANAS adalah dalam cara menentukan kelulusan siswa, terutama sejak tahun 2003. Dalam EBTANAS, kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi nilai semester I (P), nilai semester II (Q), dan nilai EBTANAS murni (R), sedangkan kelulusan siswa pada UAN ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual.

Periode 2005-sekarang
Untuk mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan yang bermutu, pemerintah menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) untuk SMP/MTs/SMPLB dan SMA/SMK/MA/SMALB/SMKLB.

Perione 2008 – sekarang
Untuk mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan yang bermutu, mulai tahun ajaran 2008/2009 pemerintah menyelenggarakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk SD/MI/SDLB.

23 April 2011

Renungan UN 2011

Ujian Nasional SMA sudah selesai dan hampir tidak dijumpai adanya kendala yang terjadi.kini giliran siswa SMA yang akan berjuang menghadapi UN 2011 dan mari kita berdoa agar seluruh pelaksanaan UN kali ini dapat berjalan lancar dan aman.

20 April 2011

Usai Tinjau UN, Anggota DPR Beri 6 Catatan Penting

JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah mengatakan, pihaknya menemukan enam kejadian penting dalam UN yang butuh perbaikan. Catatan itu ia buat saat meninjau pelaksanaan Ujian Nasional di sejumlah sekolah di Kalimantan Selatan.

"Pertama, cetakan soal yang dibagikan kepada siswa kurang jelas (sulit terbaca)," ungkapnya melalui telepon, Rabu, di sela-sela peninjauan atas pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Provinsi Kalsel.

Politikus Partai Golkar itu berada di Kalimantan Selatan (Kalsel) sejak Selasa (19/4) dalam rangka kunjungan kerja pada masa reses DPR. Selama kunjungan ia telah meninjau pelaksanaan UN di beberapa sekolah tersebut.

Catatan kedua, menurut dia, pertimbangan waktu pelaksanaan UN. "Menurut saya, waktu pelaksanaan UN untuk SMA, SMK dan MA sebaiknya dimulai awal bulan Mei, supaya menuntaskannya tidak terburu-buru," katanya.

Ketiga, anggota Komisi X DPR yang membidangi masalah pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan itu menyoal proses pencairan dana yang terlambat dari pemerintah pusat. "Ini termasuk salah satu faktor penting untuk diperbaiki, demi kelancaran UN," tambahnya.

Catatan keempat, kali ini Ferdiansyah mengungkapkan dalam nada positif. Ia menilai semua pihak merespon baik perjuangan Komisi X DPR RI tentang format UN sekarang. Terutama usulan menyangkut syarat kelulusan yang melibatkan unsur otonomi.

"Akan tetapi, yang menjadi catatan kelima saya ialah sosialisasi UN yang belum optimal. Paling tidak untuk hal ini (karena ada perubahan syarat kelulusan dibanding tahun sebelumnya), maka butuh empat bulan sebelum pelaksanaannya," ujarnya.

Ia melihat ada kesan terburu-buru dan tergesa-gesa. "Terakhir atau keenam, perlu pendalaman peran Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Kota, agar manajemen operasional UN kian jelas," pungkas Ferdiansyah.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID - Antara

17 April 2011

TIPS MENGHADAPI UJIAN

Tips bagi siswa menghadapi Ujian

(1) Belajar dengan tekun,

(2).Percaya diri. Percaya dengan kemampun diri sendiri. You can if you think you can.

(3).Mencoba mengerjakan soal-soal ujian tahun yang lalu.

(4).Berpikir positif dan bersikap sportif.

(5). Menjaga kesehatan dengan cukup istirahat, olah raga, dan makan secara teratur.

(6).Berdo’a kepada Allah

06 April 2011

Diknas: Rasa Takut Berlebihan Perburuk Hasil UN

Mamuju (ANTARA News) - Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Sulawesi Barat, H.Jamil Barambangi, mengemukakan, rasa takut berlebihan pada diri siswa sangat memungkinkan buruknya hasil pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun ini.

"Para anak didik yang akan menghadapi pelaksanaan UN pada April mendatang harus rileks dan tidak boleh sedikit pun ada rasa tegang pada diri sendiri. Siswa harus optimis dengan kemampuan diri sendiri, sehingga saat mengisi lembaran jawaban tak satu pun soal yang dilewatkan,"terangnya.

Ia mengatakan, rasa takut yang menghantui para siswa itu kebanyakan terjadi di beberapa daerah lain seperti di pulau Jawa, Sumatera dan beberapa kota besar lainnya.

"Siswa yang dihantui takut akan tidak lulus UN terpaksa mencari paranormal untuk menprediksi hasil UN yang ia hadapi bahkan informasi yang dihimpun media ternyata ada siswa yang terpaksa jadi korban ulah paranormal,"kata Jamil.

Jamil mengungkapkan, siswa yang menjadi korban ulah paranormal itu cukup beragam ada yang harus mengorbankan keperawanannya ada pula harus merogoh kocek uang untuk membayar paranormal.

"Kejadian seperti ini belum pernah terjadi di Sulbar, namun hal-hal seperti ini banyak yang terjadi di kota-kota besar seperti di pulau Jawa. Para pelajar itu rela melepskan keperawanannya untuk mendapatkan kelulusan. Ini terjadi akibat rasa takut yang berlebihan sehingga apapun "mahar" dari paranormal tetap diterima oleh siswa tersebut,"jelasnya.

Dia berharap, para siswa khususnya dari kalangan perempuan untuk tidak melakukan hal-hal sekonyol itu karena hasil UN tidak akan pernah mempengaruhi kegiatan paranormal atau dukun mana pun juga.

"Kelulusan hasil UN hanya bisa tertolong apabila giat belajar dari sekarang dan bukan hasil sihir para dukun atau paranormal,"terangnya.

Untuk hasil pelaksanaan UN di Sulbar kata dia, pihaknya tetap optimistis tingkat kelulusan bisa menembus angka diatas 90 persen.

"Kami optimis tingkat kelulusan hasil akhir UN di Sulbar akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Ini juga terlihat dengan hasil pelaksanaan ujian sekolah yang diterapkan oleh pihak sekolah pada masing-masing kabupaten," ungkap dia.

Jamil menerankan, untuk mencapai hasil UN hingga 100 rasanya tidak mungkin tercapai. Namun, angka di atas 90 persen akan tetap bisa terpenuhi secara maksimal.

"Kelulusan UN itu juga tergantung bagaimana sekolah menerapkan metode pembelajaran. Jika pihak sekolah menerapkan metode yang baik maka saya yakin hasilnya pun akan lebih baik," ucapnya. (ACO/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

UN Berdampak Gangguan Mental Siswa

Denpasar (ANTARA News) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bali menilai ujian nasional tingkat SD dan SMP berdampak buruk bagi perkembangan mental siswa.

"Kami menganggap ujian nasional untuk tingkat SD dan SMP tidak perlu diselenggarakan, mengingat peserta didik pada usia sekolah itu belum mampu memenuhi standar yang ditentukan pemerintah pusat," kata Ketua KPAI Bali dr AA Sri Wahyuni di Denpasar, Selasa.

Dia mengatakan, hal itu terjadi karena kualitas pendidikan tahapan sekolah dasar itu masih minim dan hanya mementingkan prestasi dan nilai siswa.

Pihak sekolah melakukan berbagai cara supaya peserta didik terlihat memiliki kemampuan akademik yang mumpuni, padahal kenyataan tidak sesuai.

Salah satu penyebab terjadinya tekanan atau gangguan mental pada peserta didik itu, muncul karena kurikulum yang tidak seimbang dengan daya tangkap siswa.

"Bayangkan saja, kurikulum SD saat ini hampir sama dengan kurikulum SMP pada zaman dulu," paparnya.

Berdasarkan data yang diperolehnya, ucap dia, dalam kurun waktu dua tahun terakhir setiap tahun sebanyak lima siswa mengalami gangguan mental dan emosional sehingga harus dirawat secara intensif di rumah sakit.

"Gangguan mental itu akibat tekanan pelajaran itu, dimulai dari enggan bersekolah, sering marah dan mengamuk tanpa sebab," katanya.

Selain menimbulkan gangguan mental dan emosional, tambahnya, ada dampak lain yang diakibatkan oleh ujian berstandar nasional itu.

"Dampak lain itu berkaitan dengan masalah sosial dan terjadi di daerah-daerah terpencil di Pulau Dewata, seperti Kubu dan Seroya Kabupaten Karangasem," ujarnya.

Sri Wahyuni menjelaskan, dampak lain dari ujian nasional adalah memicu semakin banyaknya anak yang putus sekolah.

Dia mencontohkan, siswa yang gagal mengikuti ujian akhirnya enggan melakukan ujian ulang ataupun menjalani kejar paket karena rasa malu.
(ANT)

Editor: Bambang
COPYRIGHT © 2011

Antisipasi Depresi Mental Siswa Sebelum UN

Padang (ANTARA News) - Dinas Pendidikan Sumatera Barat, mengingatkan kepada sekolah yang ada di Sumbar, untuk melakukan berbagai upaya pada siswanya guna menghindari depresi mental sebelum UN 2011 berlangsung, melalui motivasi dan keyakinan diri.

Kepala Dinas Disdik Sumbar, Burhasman Bur mengatakan persoalan mental menghadapi ujian nasional (UN) yang akan berlangsung kurang dari satu bulan ini, membutuhkan persiapan oleh siswa utamanya persiapan mental," katanya.

"Persiapan mental merupakan persoalan mendasar yang harus dimiliki siswa dan harus menjadi perhatian khusus bagi sekolah, sebelum UN berlangsung," katanya.

Burhasman menyebutkan, sejak UN diterapkan, kerap ditemukan persoalan psikologis pada siswa, dan menjadi penyebab merosotnya prestasi peserta didik saat menghadapi UN.

Tak jarang, peserta UN justru menganggap UN seperti momok menakutkan dalam sistem pendidikan yang ada. Akibatnya, jelas saja berimbas pada hasil UN yang jauh berbeda dari prestasi dan kemampuan kognitif siswa di sekolah.

Ia mengatakan, UN hanya sebuah metode untuk mengukur pencapaian belajar siswa selama mengenyam pendidikan di sekolah.

"UN tidak ada bedanya dengan Ebtanas. Yang menjadi persoalan justru ketika siswa menganggap UN adalah beban, sehingga persiapan yang dilakukan siswa, sertamerta terpuruk ketika UN berlangsung," katanya.

Ia menjelaskan, pada ujian nasional 2011 benyak perubahan mendasar pada penilaian kelulusan, diantaranya penggabungan nilai sekolah dengan nilai UN dan penentuan kelulusan yang dilakukan berdasarkan keputusan dewan guru.

"Sebelum proses pernyataan kelulusan, sekolah, guru serta perserta didik harus memahami konsep kelulusan yang telah ditentukan berdasarkan Permendiknas nomor 45 tahun 2010, baik runtutan kegiatan ujian sekolah maupun teknis pelaksanaan dan penilaian UN," katanya.

Ia meyakini, jika di awal pelaksanaannya, siswa telah siap mental, bisa dipastikan hal itu membantu siswa lebih teliti dan percaya diri terhadap kemampuannya, tidak mengandalkan `jimat` maupun contekan teman.

Selain itu, ia menekankan kepada sekolah-sekolah di Sumbar, dengan sisa waktu yang ada itu, dimanfaatkan untuk menuntaskan target kurikulum serta mengotimalkan daya serap siswa, khususnya terhadap mata pelajaran yang diujinasionalkan.

Disamping itu, peran orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak didik sangat diharapkan. Orang tua diminta untuk memperketat waktu bermain anak didik.

"Jangan sampai saat UN berlangsung, banyak siswa yang tidak bisa mengikuti UN lantaran sakit dan kecelakaan, untuk itu peran orang tua cukup besar untuk mensukseskan UN tahun ini," katanya. (ANT/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

24 Februari 2011

KELULUSAN UJIAN NASIONAL

1. Peserta didik dinyatakan lulus US/M SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK apabila peserta didik telah memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan Nilai S/M.

2. Nilai S/M sebagaimana dimaksud pada nomor 1 diperoleh dari gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk SMP/MTs dan SMPLB dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor.

3. Nilai S/M sebagaimana dimaksud pada nomor 1 diperoleh dari gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 3, 4, dan 5 untuk SMA/MA, SMALB dan SMK dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor.

4. Kelulusan peserta didik dari UN ditentukan berdasarkan NA.

5. NA sebagaimana dimaksud pada butir nomor 4 diperoleh dari gabungan Nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dengan Nilai UN, dengan pembobotan 40% untuk Nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dan 60% untuk Nilai UN.

6. Skala yang digunakan pada nilai S/M, nilai rapor dan nilai akhir adalah nol sampai sepuluh.

7. Pembulatan nilai gabungan nilai S/M dan nilai rapor dinyatakan dalam bentuk dua decimal, apabila decimal ketiga ? 5 maka dibulatkan ke atas.

8. Pembulatan nilai akhir dinyatakan dalam bentuk satu decimal, apabila decimal kedua ? 5 maka dibulatkan ke atas.

9. Peserta didik dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata dari semua NA sebagaimana dimaksud pada butir nomor 5 mencapai paling rendah 5,5 (lima koma lima) dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (empat koma nol).

10. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh setiap satuan pendidikan melalui rapat dewan guru berdasarkan kriteria kelulusan sebagaimana