Tampilkan postingan dengan label TIPS MENGAJAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIPS MENGAJAR. Tampilkan semua postingan

12 Maret 2015

Nasehat Dari Kantin Sekolah

Oleh: Muhammad Arif  Romadoni
Siswa-siswi terlihat gembira dan berbincang-bincang disertai tawa lepas sambil menikmati hidangan menu favorit mereka. Pada raut wajah mereka terpancar keceriaandan kebahagiaan. 

Demikian suasana para siswa yang sering kita lihat dikantin sekolah. Kantin sekolah adalah suatu ruang atau tempat yang menyediakan makanan dan minuman bagi warga sekolah. Kantin adalah tempat untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar memilih makanan yang baik dan sehat, Kantin juga merupakan tempat yang memberi bantuan dalam mengajarkan ilmu gizi secara nyata, menganjurkan kebersihan dan kesehatan, menekankan kesopanan dalam masyarakat, bekerja, dan kehidupan bersama, menekankan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat, memberikan gambaran tentang manajemen yang praktis dan baik, dan tempat yang memberikan pelajaran sosial kepada siswa.

Kantin sekolah adalah tempat favorite para siswa dan sebagai tempat untuk berdiskusi tentang apa saja termasuk materi pelajaran di kelas serta selalu dijadikan alternative tujuan ketika meminta ijin ke kamar mandi oleh sebagian siswa. Sedangkan suasana didalam ruang kelas, siswa selalu menggambarkan dengan suasana yang tegang dan tempat membosankan. Demikian suasana kedua tempat tersebut. Berbicara tentang kantin dan hubungannya dengan metode pembelajaran, mari kita belajar dari suasana di kantin sekolah.

Berikut ini beberapa situasi yang pernah penulis amati di kantin sekolah, Pertama: Siswa bebas memilih menu sesuai selera mereka, bahkan mereka bebas mengambil sendiri atau diantar oleh pelayan kantin. Jika kita bandingkan dengan situasi di ruang kelas sangat jauh berbeda, didalam ruang kelas siswa terkadang tidak bisa memilih jenis penyampaian materi dari guru, hanya metode ceramah satu arah yang membosankan menjadi menu favorite.

Kedua, Siswa bebas memilih tempat duduk dan duduk dengan posisi yang rileks. Setelah menentukan menu yang mereka senangi selanjunya mereka menikmati menu tersebut dengan duduk santai di bawah pohon yang rindang atau di deretan bangku khusus favorite mereka. Sementara di dalam ruang kelas, wali kelas maupun guru mata pelajaran jarang bahkan tak pernah mengganti posisi bangku maupun kursi anak didik selama 1 tahun.

Selanjutnya Ketiga, Siswa bebas makan sambil berbincang bincang dan sedikit bersuara keras. Sebaliknya dikelas ketika guru mata pelajaran memberi tugas selalu dibarengi perintah tanpa bersuara kepada siswa dan dilarang bertanya sehingga kelas yang disenangi guru adalah kelas yang diam, senyap dan tanpa bersuara ketika proses belajar mengajar berlangsung. Keempat, Pelayan atau ibu dan bapak kantin selalu memberi pelayanan terbaik kepada seluruh siswa meskipun ketika terjadi pencurian makanan atau istilah para siswa lupa bayar sering dibalas dengan omelan singkat oleh ibu kantin dan biasanya dijawab siswa dengan senyuman dan menyatakan maksud berhutang. 

Sehingga ketika seorang guru masuk kedalam ruang kelas selayaknya memberi pelayanan terbaik kepada seluruh siswa agar ruangan kelas merupakan tempat favorit di lingkungan sekolah dan bukan menjadi tempat yang membosankan.

Sumber:http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/20/kantin-sekolah-dan-teori-mendidik-526299.html

20 Oktober 2012

Tips Menghindarkan Siswa dari Tawuran


 ‘……………… Hormati gurumu
Sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman.’

Syair lagu tadi telah lama tidak kita dengarkan lagi.Tetapi syair tadi sangat bermakna bagi para anak didik penerus bangsa. Akhir-akhir ini kita mendengar berita tentang dunia pendidikan saat ini. namun terasa menyakitkan hati. Ananda yang seharusnya menghormati guru, menyayangi teman malah melukai dan menghilangkan nyawa saudaramu sendiri. 

Tawuran bukanlah kata yang nyaman untuk didengar, bukan pula ajang untuk aktualisasi diri yang sebenarnya. Berikut tips bagi anak anakku semua agar terhindar dari hal tersebut:
Sekolah sebagai lingkungan kedua setelah lingkungan tempat tinggal siswa seharusnya dapat menjadi tempat yang nyaman bagi warga sekolah. Segala aktivitas di sekolah harus menjadi kesenangan dan hiburan yang mendidik bagi warga sekolah. Hal-hal yang positif yang diperoleh anak didik di sekolah  selayaknya dapat memberikan perkembangan diri yang positif juga. Marilah kita bersama sama seluruh warga sekolah untuk membina karakter anak bangsa ini kembali ke budi pekerti seperti yang telah dipelajari orangtua kita dahulu.

Kegiatan yang positif dapat menjadikan diri sebagai pribadi yang baik, mandiri, spotif. Melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dapat berupa kegiatan social, olahraga, kegiatan akademik dan keagamaan. Sehingga aktualisasi diri dapat tercipta dan menjadikan pribadi yang memiliki prestasi . Ananda penerus generasi bangsa yang menjadi harapan terbesar bangsa ini sudah selayaknya tidak lagi bermusuhan dengan saudara sendiri. Ananda sudah harus menjadi penerus yang tidak boleh lelah untuk mengukir prestasi.

Sumber: http://biologikuliah.blogspot.com

Slogan “Sekolahku adalah Surgaku”

Bercermin dari pemberitaan media massa dan yang terjadi saat ini mengindikatorkan pada rendahnya penerapan nilai-nilai pendidikan karakter di lingkungan pendidikan, sebagai contoh meningkatnya tingkat kenakalan remaja, perilaku merusak diri (merokok, seks bebas dan lain-lain), merosotnya spirit untuk belajar dan datang kesekolah dan menemukan hal-hal baru atau hasil karya penelitian, penggunaan kata-kata yang tidak sopan dikalangan pelajar, dan terakhir kurangnya tanggung jawab siswa sebagai individu dan masyarakat yang kurang peduli dengan perkembangan mental siswa atau remaja.

Berada dilingkungan pendidikan menuntut kita untuk selalu menggali hal-hal positif, penemuan-penemuan  ilmiah yang bermanfaat bagi kehidupan. Bukan jamannya lagi Proses Belajar Mengajar dilaksanakan dengan mencela, kekerasan, menyinggung perasaan orang lain, selalu melihat kelemahan orang lain tetapi hal yang paling urgen adalah melakukan proses atau tahapan pengembangan potensi diri yang telah kita miliki kearah yang lebih baik.

Berkaitan dengan hal tersebut Perubahan mendasar harus segera dilakukan yang meliputi:
 (1) Pola pikir seluruh warga sekolah.sudah selayaknya siswa, guru dan semua warga sekolah selalu berkomitmen, mempunyai kebulatan tekad serta memiliki kesamaan visi utuk memajukan dan mengharumkan nama baik sekolah.
(2) Sistem atau tatakelola yang baik.Manajemen yang terorganisir dapat dipastikan menjadikan seluruh komponen warga sekolah memahami dan melaksakan tugas dan tanggungjawab masing-masing sebagai kewajiban bukan sebagai paksaan
(3) Pemanfaatan dan pengembangan seluruh potensi dan komponen yang ada dilingkungan sekolah. Keberhasilan yang akan dicapai tidak terlepas dari peran serta semua pihak.

Mari secara bersama-sama merubah paradigma siswa sebagai remaja yang kurang baik menjadi SISWA YANG BERPRESTASI.Penerapan nilai-nilai pendidikan karakter tidak seharusnya menjadi hal yang ditawar lagi. Budaya malas kita dengan rajin dan bersemangat, kejujuran, kerukunan, disiplin dan sebagainya Sehingga slogan “Sekolahku adalah Surgaku” selalu diikrarkan disetiap sanubari Siswa, Guru, Pegawai, Kepala Sekolah.

Bagaimana menurut pendapat anda?

sumber: http://www.kompasiana.com/marifromadoni

Ada Surga di Sekolahku

Seorang kepala sekolah adalah pimpinan tertinggi di sekolah, segala keputusan dan kebijakan seorang kepala sekolah selalu bertujuan memajukan nama baik sekolah dimata masyarakat terkhusus di lingkungan sekolah itu berada

Interaksi dengan warga sekolah adalah kunci utama keberhasilan kepemimpinan di sekolah. Ketika kepala sekolah berinteraksi dengan masyarakat, guru, siswa dan seluruh warga sekolah tentu merupakan hal mutlak untuk diapplikasikan.Interaksi yang baik tentu saja menjadikan jalinan komunikasi yang baik pula.
Interaksi dengan guru maupun siswa yang berkelanjutan dapat menciptakan suasana yang harmonis di lingkungan sekolah dan suasana harmonis yang tercipta di sekolah menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman untuk dikunjungi atau sekolah menjadi surga bagi seluruh warga sekolah atau “SEKOLAHKU adalah SURGAKU’

Tentu hal tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan seorang kepala sekolah dan keberhasilan kepala sekolah adalah keberhasilan seluruh warga sekolah.

Lalu bisakah semua kepala sekolah membuat Ada Surga di Sekolah?

http://www.kompasiana.com/marifromadoni

29 April 2011

TIPS BERPIDATO

Hari rabu kemarin dinas pendidikan kabupaten labuhan batu mengadakan lomba pidato berbahasa inggris. Dari seluruh penampilan peserta saya mengamati unsur penilaian yang diambil juri sangat baik sekali.beberapa kriteria yang mungkin jadi penilaian juri sekaligus sebagai tips untuk calon peserta pidato adalah sebagai berikut:
1.Penampilan
. Pakaian harus rapi
. Wajah selalu senyum
. Sikap badan tegak dan santai
. Adanya keseimbangan gerak
. Adanya keserasian dalam pembicaraan

2.Menumbuhkan percaya diri

3.Pandangan, harus :
. Seramah mungkin
. Adanya kontak mata dengan audience
. Pandangan merata keseluruh audience

semoga bermanfaat.

06 April 2011

E-LEARNING

Istilah e-learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-Learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan:
e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

LearnFrame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:
e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.
Matthew Comerchero dalam E-Learning Concepts and Techniques [Bloomsburg, 2006] mendefinisikan:

E-learning adalah sarana pendidikan yang mencakup motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi, dan teknologi. Karena ada keterbatasan dalam interaksi sosial, siswa harus menjaga diri mereka tetap termotivasi. E-learning efisien karena mengeliminasi jarak dan arus pulang-pergi. Jarak dieliminasi karena isi dari e-learning didesain dengan media yang dapat diakses dari terminal komputer yang memiliki peralatan yang sesuai dan sarana teknologi lainnya yang dapat mengakses jaringan atau Internet.
Dari definisi-definisi yang muncul dapat kita simpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-Learning (Wahono, 2005, p. 1).

Keuntungan Menggunakan E-learning
Keuntungan menggunakan e-Learning diantaranya sebagai berikut (Wahono, 2005, p. 2):
a. Fleksibel karena siswa dapat belajar kapan saja, di mana saja, dan dengan tipe pembelajaran yang berbeda-beda.
b. Menghemat waktu proses belajar mengajar
c. Mengurangi biaya perjalanan
d. Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku)
e. Menjangkau wilayah geografis yang lebih luas
Melatih pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan

Kelemahan Menggunakan E-learning
Kelemahan menggunakan e-learning diantaranya sebagai berikut (Rosenberg, 2006):
a. Karena e-learning menggunakan teknologi informasi, tidak semua orang terutama orang yang masih awam dapat menggunakannya dengan baik.
b. Membuat e-learning yang interaktif dan sesuai dengan keinginan pengguna membutuhkan programming yang sulit, sehingga pembuatannya cukup lama.
c. E-learning membutuhkan infrastruktur yang baik sehingga membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi.
d. Tidak semua orang mau menggunakan e-learning sebagai media belajar.

2. Membudayakan Pembelajaran E-Learning
Konsep dan model sekolah yang berbasis TIK merupakan perwujutan bagi peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu sekolah ini ditekankan pada pengembangan sarana, persiapan bahan pengajaran dan pelaksanaan kurikulum, pengembangan buku teks, peningkatan pelayanan penataran guru, peningkatan pembinaan guru, serta mengembangkan model pengembangan dan pelaksanaan manajemen SMA.

Pengelolaan sekolah untuk peningkatan mutu dan relevansi pendidikan di SMA menuju sekolah yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan melalui penyelenggaraan pembelajaran yang bermutu, serta mendorong terwujudnya good governance dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan berbasis TIK guna mewujudkan peningkatan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Upaya mewujudkan sekolah berbasis TIK perlu melibatkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas SDM baik untuk kepala sekolah, guru, karyawan, dan para siswanya agar memiliki kualitas dan kompetensi yang mampu berkompetisi di dunia nasional dan internasional.

Bagi sekolah yang mengaku sekolah berbasis TIK masih terjebak pada peningkatan pengadaan komputer, pembangunan Laboratorium komputer, Ruang Multimedia , dan pengadaan internet. Pengembangan kurikulum TIK , program muatan lokal dan pembelajaran lainnya belum mengembangkan pembelajaran berbasis TIK dengan menyelenggarakan model pembelajaran e-learning.

Salah satu kendalanya mengembangkan pembelajaran berbasis TIK adalah menyiapkan peserta didik dalam budaya belajar berbasis teknologi informasi serta kurang trampilnya dalam menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta masih terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis TIK adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan. Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk membudayakan siawa dengan teknologi.

Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Yaitu (1) Kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. (2) Penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan (3) Penguasaan materi pembelajaran sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat.

Dalam penetapan kualitas pembelejaran dengan menggunakan model e-learning harus memperhatikan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi: kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari peserta didik.

Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas pemanfaatan internet dalam ruang multi media.

DAFTAR PUSTAKA:
Anonim. 2008. http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?view=article&catid=25%3Aindustri&id=227%3Ae-learning&option=com_content&Itemid=15
Eksan. 2008 http://eksan.web.id/2008/10/membudayakan-model-pembelajaran-e-learning.html

29 Juli 2010

Guru Sering Lupakan Gaya Belajar Anak

Gunung Kidul (ANTARA News) - Praktisi psikolog Rumah Sakit Grashia Yogyakarta, Sumaryanto, di Gunung Kidul mengatakan bahwa para guru, pelatih, dan orang tua di seluruh dunia seringkali melupakan keunikan gaya belajar yang dimiliki setiap anak.

Setiap anak dengan latar belakang berbeda mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar. Mereka mempunyai cara masing-masing dalam memperoleh dan mengolah informasi, katanya pada seminar memperingati hari anak nasional di Wonosari, Sabtu.

"Keunikan dalam belajar dan cara memperoleh serta mengolah informasi setiap anak berbeda-beda sesuai dengan latar belakang yang dimiliki, gaya inilah yang disebut dengan learning style atau gaya belajar," katanya.

Dia mengatakan banyak ahli pendidikan dan psikologi menggunakan istilah yang berbeda dalam memahami gaya belajar anak, tetapi bagaimana seseorang menyerap informasi dengan mudah disebut sebagai modalitas, katanya.

Menurutnya para guru, pelatih dan orang tau diseluruh dunia masih mengalah pada kepercayaan lama yang mestinya untuk saat ini dipertimbangkan lagi.

"Guru, pelatih dan orang tua masih melihat kesiapan anak untuk belajar apabila anak-anak dalam kondisi duduk tertib dan diam memperhatikan apa yang disampaikan guru atau pelatih, kalau tidak berarti anak dianggap tidak siap untuk belajar," katanya.

Pengajar, pelatih dan pendidik cenderung mengajar dengan cara yang sama seperti cara belajar yang kita sukai sendiri sehingga yang terjadi hadala perbedaan gaya belajar yang bersifat individual, katanya.

"Sebagai pendidik, pelatih dan orang tua harus mengetahui bagaimana perbedaan gaya berfikir atau belajar yang dimiliki anak-anak yang kemudian diterjemahkan ke dalam gaya belajar yang berbeda," katanya.

Menurutnya, ada kalanya pendidik, pelatih dan orang tua mengalah untuk mengikuti gaya belajar atau berfikir anak-anak, karena biasanya gaya berfikir sendiri akan mendominasi pendekatan yang digunakan saat mengajar.

Ditulis ulang oleh: Muhammad Arif Romadoni
Antaranews.com, 24 Juli 2010

23 Juli 2010

Guru Bahasa Inggris, Miskin Ide? Tengoklah Kedua Situs Ini...



KOMPAS.com — Apakah Anda seorang guru Bahasa Inggris yang akan mengajar, tetapi belum menemukan ide dan contoh-contoh kegiatan yang bisa Anda gunakan di kelas? Dua situs berikut ini mungkin bisa memberikan solusi.

Pada zaman melek internet seperti saat ini, akses terhadap materi pengajaran Bahasa Inggris menjadi sangat luas. Alhasil, semua orang dapat belajar apa pun, kapan pun, dan di mana pun, termasuk melalui dua situs berikut ini:

How To Teach English atau h2te

Situs h2te.depdiknas.go.id/ merupakan salah satu model baru tentang cara terkini belajar dan membelajarkan para siswa yang dikhususkan bagi para guru Bahasa Inggris. Model pembelajaran ini dikembangkan atas kerja sama British Council (BC) dengan Pusat Teknologi dan Komputer (Pustekkom) Kementerian Pendidikan Nasional RI.

Beberapa manfaat yang akan Anda dapatkan di sini, antara lain:

* Lesson plans yang telah disesuaikan dengan kurikulum pengajaran Bahasa Inggris di seluruh Indonesia mulai tingkat SD sampai SMA/SMK.
* Video yang merupakan koleksi video guru-guru di beberapa negara Asia yang memberikan inspirasi tentang classsroom management, teacher-student interaction, speaking activities, dan interactive games.
* News yang akan memberikan bermacam informasi terbaru di dunia pengajaran Bahasa Inggris, pelatihan, bahkan konferensi-konferensi yang bisa diikuti oleh para guru.
* Articles, yaitu kumpulan naskah artikel berisi tema-tema metodologi pengajaran Bahasa Inggris.
* Link, yang merupakan tautan ke berbagai sumber english language teaching (ELT) yang tentu Anda butuhkan.



Teaching English

Tak ubahnya How To Teach English atau h2te, situs www.teachingenglish.org.uk ini memuat banyak konten pembelajaran menarik. Beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari situs hasil kerja sama British Council (BC) dan BBC ini antara lain:
* Koleksi bahan pengajaran seperti lesson plan dan worksheet dari BC, BBC, dan lembaga-lembaga lainnya di Inggris.
* Koleksi-koleksi artikel tentang bermacam metodologi mengajar, wacana ELT, dan tips mengelola kelas.
* Forum diskusi yang bisa diiiktui oleh para guru Bahasa Inggris dari seluruh penjuru dunia.
* Berita dan informasi terkait pengembangan karier, pelatihan, dan seminar juga bisa menjadi bekal wawasan baru untuk Anda.
________________________________________
Kompas.com, 11 Juni 2010

18 Juli 2010

METODE DEBAT

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.

Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

PROBLEM SOLVING

Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

06 Juli 2010

Kiat Sukses Mengawali Tahun Ajaran Baru

Setiap murid memiliki kenangan tentang kejadian di kelas pada waktu dulu. Mereka ingat persis bagaimaana guru menangani perilaku yang bermasalah di awal tahun, bagaimana cara guru menepati janji, dan di mana guru bersikap pilih kasih. Karena masa lalu memengaruhi masa depan, guru mesti mengelola kelas dengan cara yang mendukung. Jangan melemahkan motivasi belajar siswa. Artinya, minggu pertama tahun ajaran sekolah menjadi amat penting untuk membangun prinsip pengelolaan kelas yang efektif.

Salah satu kunci mengatasinya adalah mengelola hari-hari pertama dan minggu-minggu awal masa sekolah secara cermat dan hati-hati. Mengingat, kesan awal tahun ajaran tersebut menentukan keberhasilan pembelajaran selanjutnya. Untuk itu, manfaatkan masa awal tahun ajaran ini untuk menyampaikan aturan dan prosedur yang Anda gunakan di kelas. Ajaklah murid bekerja sama untuk mematuhinya dan terlibat aktif dalam semua aktivitas pembelajaran.

Membangun ekspektasi, aturan, dan aktivitas rutin di minggu-minggu awal tersebut sangat membantu memperlancar dan memudahkan pengembangan lingkungan kelas yang positif. Berikut beberapa strategi pembelajaran yang baik untuk mengawali tahun ajaran baru.

Menciptakan ekspektasi untuk perilaku dan membuang ketidakpastian. Pada awal tahun ajaran baru, murid merasa tidak pasti tentang apa yang diharapkan dari kelas Anda. Mereka mungkin memiliki perkiraan yang berbeda dengan ekspektasi Anda. Sebab, mereka mendasarkan ekspektasi itu pada pengalamannya dengan guru lain sebelumnya. Pada hari-hari pertama sekolah, paparkan ekspektasi Anda tentang perilaku dan kegiatan murid. Jangan hanya fokus pada mata pelajaran. Luangkan waktu untuk menerangkan secara jelas dan konkret tentang aturan, prosedur, dan persyaratan kelas sehingga murid tahu apa yang harus dikerjakan di kelas.

Pastikan kepada murid bahwa mereka bisa meraih kesuksesan belajar. Pada minggu-minggu awal sekolah, mata pelajaran dan tugas harus didesain untuk memastikan murid sukses dalam mengerjakannya. Ini akan membantu murid untuk mengembangkan sikap positif dan memberi mereka rasa percaya diri untuk menghadapi tugas yang lebih sulit.

Selalu siap dan hadir. Tunjukkan pada murid bahwa mereka dapat menemui Anda kapan pun mereka butuh informasi. Selama memberi tugas mandiri atau tugas kelompok, pastikan Anda hadir, jangan pergi dari meja Anda atau menyelesaikan pekerjaan lain. Berkelilinglah di ruangan untuk memantau kemajuan murid dan membantu memberi bantuan jika dibutuhkan.

Bersikaplah tegas. Meski Anda telah memaparkan aturan kelas dan ekspektasi, beberapa murid mungkin lupa atau ada murid yang ingin menguji Anda apakah Anda siap menegakkan aturan tersebut, terutama di minggu-minggu pertama sekolah. Untuk itu, selalu bangun batas antara ''apa yang diterima'' dan ''apa yang tidak dapat diterima'' di kelas Anda. Selamat mengawali tahun ajaran baru. (*/hud)

Sumber: Jawa Pos (Sabtu, 11 Juli 2009)

30 Mei 2009

Metode Pengajaran John Dewey
Menurut John Dewey metode reflektif di dalam memecahkan masalah, yaitu suatu proses berpikir aktif, hati-hati, yang dilandasi proses berpikir ke arah kesimpulan –kesimpulan yang definitif melalui lima langkah.
1) Siswa mengenali masalah, masalah itu datang dari luar diri siswa itu sendiri.
2) Selanjutnya siswa akan menyelidiki dan menganalisa kesulitannya dan menentukan masalah yang dihadapinya.
3) Lalu dia menghubungkan uraian-uraian hasil analisisnya itu atau satu sama lain, dan mengumpulkan berbagai kemungkinan guna memecahkan masalah tersebut. Dalam bertindak ia dipimpin oleh pengalamannya sendiri.
4) Kemudian ia menimbang kemungkinan jawaban atau hipotesis dengan akibatnya masing-masing.
5) Selajutnya ia mencoba mempraktekkan salah satu kemungkinan pemecahan yang dipandangnya terbaik। Hasilnya akan membuktikan betul-tidaknya pemecahan masalah itu। Bilamana pemecahan masalah itu salah atau kurang tepat, maka akan di cobanya kemungkinan yang lain sampai ditemuka pemecahan masalah yang tepat. Pemecahan masalah itulah yang benar, yaitu yang berguna untuk hidup.

Namun langkah-langkah ini tidak dipandang secara kaku dan mekanistis, artinya tidak mutlak harus mengikuti urutan seperti itu. Siswa bisa bergerak bolak-balik, antara masalah dan hipotesis ke arah pembuktian, ke arah kesimpulan dalam batas-batas aturan yang bervariasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan instruksional ini mirip dengan suatu penelitian ilmiah di mana suatu hipotesis dapat diuji dan dirumuskan. Selanjutnya Dewey menganjurkan agar bentuk isi pelajaran hendaknya dimulai dari pengalaman siswa dan berakhir pada pola struktur mata pelajaran. Dengan demikian jelas betapa pentingnya makna bekerja, karena bekerja memberikan pengalaman dan pengalaman memimpin orang berpikir sehingga dapat bertindak bijaksana dan benar. Pengalaman itu mempengaruhi budi pekerti. Ada pengalaman positif dan ada pengalaman negatif. Pengalaman yang positf adalah pengalaman yang benar, sebab faedahnya dapat diterapkan di dalam kehidupan. Sebaliknya, pengalaman negatif adalah pengalaman yang salah, merugikan atau menghambat kehidupan dan tak perlu dipakai lagi.

26 Mei 2009

Ciri-ciri Anak Kreatif

"Ciri-ciri siswa kreatif di antaranya wajah cerah dan dinamis, berminat luas dari mata pelajaran sampai kesenian, dan sering bertanya secara berbobot. Siswa kreatif selalu ingin tahu dan butuh jawaban ilmiah, serta memiliki banyak alternatif untuk menyelesaikan masalah. Siswa kreatif tidak akan cepat merasa puas, berani tampil beda, dan berani ambil risiko yang mungkin muncul. Gagasan-gagasan segar juga sering dimunculkan oleh siswa kreatif," (Arief Rahman - Tokoh Pendididan Nasional)